1. A. PENDAHULUAN

Peradaban islam adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah al-islamiyah. Kata Arab ini juga sering juga di terjemahkan ke dalam  bahasa Indonesia dengan Kebudayaan Islam. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan semangat mendalam suatu masyarakat. Menurut koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud, (1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilia-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya, (2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud benda yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.

Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. telah membawa bangsa Arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal dan diabaikan oleh bangsa-bangsa lain menjadi bangsa peradaban yang masuk ke wilayah Arab sangat mempengaruhi orang-orang Arab tersebut. Arab sebelum islam sangatlah di kelilingi oleh orang-orang jahiliyah yang dipengaruhi oleh oaring-orang kaum Quraisy. Islam masuk di bawa oleh nabi Muhammad dengan wahyu dari Allah meskipun banyak cobaan yang di hadapi nabi ketika menyebarkan islam tapi nabi tetap teguh kepada pendiriannya terus menyebarkan agama islam. Kaena serangan yang di lakukan oleh orang kafir Quraisy, nabi beserta pengikutnya hijrah kemadinah.

Riwayat hidup nabi Muhammad dalam memperluas islam dan memperjuangkannya terjadi sebelum dan sesudah nabi menjadi rasul. Akhlak nabi yang dari kecil sudah mencerminkan kenabiannya. Dan pada saat nabi usia 25 tahun barulah Allah mengangkat nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul. Tidak mudah dalam menyebarkan islam seperti yang telah dikatakan bahwa banyak halangan yang nabi dapatkan diantaranya dari kaum kafir Quraisy, untuk lebih jelasnya akan di bahas dalam pembahasan kita ini yaitu tentang riwayat nabi Muhammad.

  1. B. BIOGRAFI NABI MUHAMMAD SAW
  2. 1. SITUASI ARAB PRA ISLAM
  3. a. Letak Jazirah Arab

Menurut pendapat para ulama ahli ilmu bumi, bumi ini terdiri atas tiga benua: Asia, Eropa, dan Afrika. Kemudian, akhir-akhir ini ditambah dua benua lagi, yaitu Amerika yang ditemukan pada abad ke-15 M dan Australia yang ditemukan pada abad ke-17 M. Jadi, di muka bumi ada lima benua.

Jazirah Arab merupakan sebagian dari bumi atau suatu daerah berupa pulau yang berada di antara benua Asia dan Afrika, seolah-olah daerah Arab itu sebagai hati bumi (dunia). Sejak dahulu, daerah Arab memang terkenal dengan nama itu karena daerah Arab sebagian besar dikelilingi dengan oleh sungai-sungai dan lautan sehingga terlihat seperti jazirah (pulau). Demikianlah kata sahabat Ibnu Abbas r.a..

Kebenaran perkataan itu memang nyata. Sebelah barat daerah Arab dibatasi oleh Laut Merah, sebelah timur dibatasi oleh Teluk Persia dan Laut Oman atau sungai-sungai Dajlah (Tigris) dan Furrat (Euphraat). Sebelah selatan dibatasi oleh Lautan Hindia dan sebelah utara oleh Sahara Tiih (lautan pasir yang ada di antara negeri Syam dan Sungai Furrat). Itulah sebabnya daerah Arab itu terkenal sebagai pulau dan dinamakan Jaziratul Arabiyah.

  1. b. Luas Jazirah Arab dan Jumlah Penduduknya[1]

Jazirah Arab itu luasnya kurang lebih 1.100.000 mil persegi atau 126.000 farsakh persegi atau 3.156.558 kilometer persegi. Tanah yang sekian luasnya itu sepertiganya tertutupi lautan pasir, yang diantaranya yang paling besar adalah yang terkenal dengan nama Ar-Rabi’l Khali. Bukan dengan pasir saja, tetapi dipenuhi pula oleh batu-batu yang besar atau gunung-gunung batu yang tinggi, di antaranya yang paling besar dan serta paling tinggi adalah yang terkenal dengan nama Jabal As-Sarat. Di dalam pulau pasir ini tidak ada sungai yang mengalir karena lembah-lembahnya sebentar berair dan sebentar kering; airnya sebagian mengalir masuk ke dalam padang-padang pasir saja dan sebagian masuk ke dalam lautan.

  1. c. Bagian-Bagian Jazirah Arab[2]

Jazirah Arab itu terbagi atas delapan bagian dan setiap bagian mempunyai karakter masing-masing. Hijaz, Yaman, Hadhramaut, Muhrah, Oman, Al-Hasa, Najd, dan Ahqaf. Pada zaman dahulu, Jazirah Arab itu terbagi atas enam bagian, yaitu Hijaz, Yaman, Najd, Tihamah, Ihsa’, dan Yamamah (Arudh).

  1. Hijaz terletak di sebelah tenggara dari Thursina di tepi Laut Merah.
  2. Yaman terletak di sebelah selatan Hijaz,
  3. Hadhramaut terletak di sebelah timur dari daerah Yaman dan di tepi Samudera Hindia.
  4. Muhrah terletak di sebelah timur daerah Hadhramaut.
  5. Oman terletak di sebelah utara bersambung dengan Teluk Persia dan di sebelah tenggara dengan Samudera Hindia.
  6. Al-Hasa terletak di pantai Teluk Persia dan panjangnya sampai ke tepi Sungai Euphraat.
  7. Najd terletak di tengah-tengah antara Hijaz, Al-Hasa, sahara negeri Syam, dan negeri Yamamah.
  8. Ahqaf terletak di daerah Arab sebelah selatan dan di sebelah barat-daya dari Oman. Daerah Ahqaf merupakan dataran yang rendah.
  1. d. Penghasilan Jazirah Arab

Jazirah Arab itu dalam masing-masing bagian, seperti yang telah disebutkan di atas, memiliki hasil bumi yang berbeda-beda. Misalnya, daerah Hijaz, desa-desanya menghasilkan hasil bumi berupa buah-buahan, seperti kurma, anggur, dan sebagainya. Oman menghasilkan tembaga, Hadhramaut menghasilkan kayu-kayuan yang berbau harum, yang telah dikenal oleh kita bangsa Indonesia dengan kayu gaharu dan kemenyan. Al-Hasa menghasilkan permata-permata yang berharga. Di Yaman juga boleh dikatakan lebih banyak hasil buminya daripada daerah yang lain, karena daerah ini, selain menghasilkan buah-buahan, juga menghasilkan permata-permata yang baik, merjan-merjan yang indah, dan sebagainya.

Adapun binatang-binatang ternak yang sangat berharga di seluruh Jazirah Arab adalah unta, karena binatang itu banyak sekali gunanya dibandingkan dengan binatang-binatang yang lain, yaitu untuk kendaraan serta untuk mata pencarian sehari-hari penduduk di daerah Arab seluruhnya. Di daerah Najd ada pula jenis binatang yang sangat berharga di seluruh dunia karena disukai oleh segenap bangsa, yaitu kuda. Kuda Najd sangat termasyhur.

  1. e. Jenis Manusia dan Pencampurannya

Jenis atau macam manusia di dunia ini banyak, tetapi yang menjadi pokoknya hanya tiga jenis: manusia berkulit putih; manusia berkulit hitam; dan manusia berkulit kuning. Penduduk yang berkulit putih berasal dari Persia, tersebar di India, sampai ke daerah Asia sebelah barat dan kemudian memenuhi Eropa. Yang berkulit hitam berasal dari Afrika dan Australia. Yang berkulit kuning berasal dari Tiongkok, tersebar sampai ke Asia sebelah utara dan ke Semenanjung Malaya.

Jenis atau warna kulit manusia yang tiga itu, asal mulanya dari tiga putra Nuh (Nabi Nuh a.s.): Sam, Yafits, dan Ham, yang berpisah karena tidak dapat berkumpul lagi di negeri Babil.

Adapun asal usul bangsa Arab itu menurut keterangan para ahli ilmu bangsa-bangsa, bahwa Bangsa Arab termasuk golongan bangsa Semit, yaitu berasal dari keturunan Sam bin Nuh. Segenap ahli riwayat hampir sepakat bahwa tempat kelahiran keturunan Sam yang pertama sekali adalah lembah sungai Euphraat atau dataran yang terletak di antara Sungai Tigris (Dajlah) dan Sungai Euphraat (Furrat).

Bangsa Arab merupakan suatu bangsa yang berasal dari percampuran kulit hitam dan kulit putih.

  1. f. Asal Usul Bangsa Arab[3]

Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh segenap para ulama ahli tarikh, bangsa Arab itu terbagi atas tiga bangsa, yaitu bangsa Al-‘Arabaa’, bangsa Al-‘Aaribah, dan bangsa Al-Musta’rabah.

Pertama, bangsa Arab Al-‘Arabaa’ itu disebutkan juga Arab Al-Baa-idah. Mereka adalah bangsa Arab yang mula-mula sekali atau yang asli. Mereka adalah keturunan Iram bin Sam bin Nuh, yang banyaknya ada Sembilan bangsa: ‘Aad, Tsamud, Amim, Amil, Thasam, Jadis, Imliq, Jurhum Ula, dan Wabar.

Kedua, bangsa Arab Al-‘Aaribah disebut pula Arab Al-Muta’aaribah. Mereka adalah bangsa Arab yang kedua, keturunan Jurhum bin Qahthan, putera Aabir atau Aibar. Menurut pendapat seorang ahli tarikh, Aabir atau Aibar adalah nama Nabi Hud. Mereka berdiam di daerah Hijaz dan terkenal pula dengan sebutan Arab Al-Yamaniyah karena tumpah darah mereka adalah daerah Yaman.

Ketiga, bangsa Arab Al-Musta’rabah, yaitu bangsa Arab yang datang atau orang yang dijadikan/ditetapkan sebagai bangsa Arab. Mereka itulah yang dikenal dengan sebutan bangsa Arab Ismailiyah yang menurunkan Adnan. Adnan itulah yang menurunkan Nabi Muhammad saw..

  1. g. Mata Pencarian Bangsa Arab

Pada masa itu bangsa Arab yang tinggal di jazirah terdiri atas dua golongan, yaitu golongan penduduk kota dan golongan penduduk desa. Penduduk yang terbesar jumlahnya adalah golongan yang ada di desa-desa atau yang ada di padang pasir, dekat gunung-gunung atau di lereng-lereng bukit golongan itu dinamakan Arab Badui. Bangsa Arab Badui itulah yang memelihara binatang-binatang ternak terutama unta.

Adapun sebagian besar bangsa arab yang tinggal di kota-kota memiliki mata pencaharian perniagaan keluar negeri masing-masing.

  1. h. Keagamaan Bangsa Arab

Bangsa Arab di sekitar jazirah Arab pada masa dahulu sebelum Nabi Muhammad di utus, sudah memahami keesaan Allah, sudah mengenal tuhan Allah. Mereka sudah mengikuti agama yang menuhankan Allah karena mereka pada umumnya sejak beberapa ratus tahun yang lampau sebelum nabi Muhammad di utus sudah kerap kali kedatangan dakwah dari para nabi utusan Allah yang menyampaikan seruan kepada mereka supaya menyembah kepada tuhan yang Maha Esa, jangan sampai mempersekutukan sesuatu dengan-Nya.

Adapun utsan Allah yang datang berdakwah kepada mereka itu adalah Nabi Hud a.s. diutus Allah untuk memperbaiki kepercayaan dan keagamaan penduduk yang sesat, tetapi mereka pada umumnya tidak mau mengikuti seruan suci itu,bahkan mereka sudah membantah dan menolak seruan itu.

Mereka yakin dan percaya bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan itu Maha Esa. Akan tetapi dalam menyembah kepada-Nya, mereka membuat atu mengadakan berbagai perantara, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, diantaranya:

  1. Menyembah Malaikat
  2. Menyembah Jin, Ruh dan Hantu
  3. Menyembah Binatang-binatang
  4. Menyembah Berhala
  5. Agama Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).
  1. i. Moral Bangsa Arab Sebelum Islam[4]
    1. Meminum Arak
    2. Perjudian
    3. Pelacuran
    4. Pencurian dan Perampokan
    5. Kekejaman
    6. Kekotoran dalam urusan makan dan minum
    7. Tidak mempunyai kesopanan
    8. Pertengkaran dan Perkelahian.
    9. j. Kemajuan Bangsa Arab
      1. Perniagaan

Bangsa Arab keturunan Qahthan, yang diam di Yaman, sudah sangat maju dalam masalah perniagaan atau perdagangan dan sebagian dari mereka yang tinggal di dusun-dusun, maju dalam pertaniannya. Kemajuan perdagangan di Yaman pada masa itu ada di tangan Bangsa Arab Saba’iyah dan Himyariyah, dari keturunan Qahthan. Kemajuan perdagangannya sangat pesat sehingga sampai ke Habsyi, Mesir, Syam, dan lain-lain.

  1. Pertukangan

Dalam soal pertukangan, Bangsa Arab di Yaman dapatlah di katakana jauh mendahului Bangsa atau umat lainnya. Mereka dapat mendirikan gedung-gedung yang besar, membuat kebun-kebun yang luas dan teratur, mendirikan bangunan-bangunan yang indah, memperbaiki kota-kota, dan sebagainya. Kemajuan mereka dalam perkara pertukangan itu dapat di lihat peninggalannya di Negeri Yaman.

  1. Kemajuan lain-lainnya

Adapun kemajuan mereka selain dari perdagangan dan pertukangan adalah dalm sulam menyulam, menenun, memintal, dan kesusastraan. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan dalam bidang pengetahuan binatang-binatang (astronomi), meramu obat-obatan, pengetahuan hitung menghitung, pengetahuan untuk mengetahui rahasia rupa orang dan lain-lainnya.

  1. 2. RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD: DAKWAH DAN PERJUANGAN
  2. a. Sebelum Masa Kerasulan

Nabi Muhammad Saw. Adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku quraisy. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relative miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak abdul muthalib, seorang kepala suku quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah aminah binti wahab dari bani zuhrah. Tahun kelahiran nabi dikenal dengan nama tahun gajah (570 M). dinamakan demikian, karena pada tahun itu pasukan abrahah, gubernur kerajaan Habsyi (Ethiopia), dengan menunggang gajah menerbu makkah untuk menghancurkan ka`bah.

Muhammdah lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah, meninggal dunia 3 bulan setelah dia menikahi aminah. Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, halimah sa`diyyah.dalam asuhannyalah Muhammad dibesarkan sampai usia 4 tahun. Setelah itu, kurang lebih 2 tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia 6 tahun, dia menjadi yatim piatu. Seakan-akan allah ingin melaksanakan sendiri pendidikan Muhammad, orang yang dipersiapkan untuk membawa risalah-Nya yang terakhir.[5] Allah berfirman: bukankah allah mendapatimu sebagai anak yatim, lalu dia melindungimu. Dan Allah mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu dia memberimu petunjuk (QS 95: 6-7).

Setelah aminah meninggal abdul muthalaib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun, 2 tahun kemudian abdul muthalib meninnggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, abu thalib. Seperti juga abdul muthalib, dia sangat disegani dan dihormati orang quraisy dan penduduk makkah secara keseluruhan, tetapi dia miskin.

Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan penduduk makkah. Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesuatu dibalik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda ia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.

Nabi muhamad ikut untuk pertama kali dalam khalifah dengan Syria (syam) dalam usia baru 12 tahun. Kafilah itu dipimpin oleh abu thalib. Dalam perjlanan ini, di bushra, sebelah selatan Syria, ia bertemu dengan pendeta Kristen yang bernama Buhairah.

Pada usia kedua puluh lima tahun, Muhammad berangat ke Syria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, khadijah. Dalam pedagangan ini, Muhammad mempeoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamran itu diterima dan perkawinan segera ilaksanakan. Ketika itu usia Muhammad 25 hun dan khadijah 40 tahun.daam pekembangan selanjutnya, khadijah adalah wanita pertama yang masuk islam dan banyak mmbantu nabi dalamperjuangan menyebarkan islam. Perkawinan bahagia da saling mencintai itu dikarunia enam orang anak dua putra dan empat orang putri: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak kawin lagi sampai khadijah meninggal ketika muhammdad berusia 50 tahun.

  1. b. Masa Kerasulan

Menjelang usianya yang ke 40, dia sudah terlalu bisa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, bekontemplasi ke Gua Hira, beberapa kilometer di utara Makkah. Disana Muhammad mula-mula berjam-jam kemudian berhar-hari bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 M, malaikat jibri muncul di hadapannya, menyamaikan wahyu allah yang pertama :

Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang telah encipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu itu maha mulia. Dia telah mengajar dengan qalam. Dia tela mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui. (QS 96: 1-5).

Denga turunnya wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.

Setelah wahyu pertama itu datang jibril itu datang lagi untuk beberapa lama, sementara nabi mhammad menantikannya dan selalu datang ke gua hira`. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yng membawa perintah kepadanya. Wahyu itu berbunyi sebagai berikut :

Hai orang yang berselimut, bangun, dan beri ingatlah. Hendalah engkau besarkan tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa dan janganlah egkau member (dengan makud) meperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (emenuhi perintah) tuhanmu bersabarlah (Al-Muddatstsir: 1-7).

Dengan turunnya perintah itu, mulailah rasulullah berdakwah. Petama-pertama, beliau melakukan secara berdiam-diam dilingkungan sendiri dan di kalangan rekannya. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupu Ali bin Abi Thalib yang baru berumur 10 tahun. Kemudian, Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh nabi sejak ibunya aminah masa hidup, juga termasuk orang yang pertama kali masuk islam. Sebagai seseorang pedagang yang berpengaruh, abu bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Usman bin Affan, Zubair bin Awwan, Abdurrahman bin `Auf, Sa`ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka dibawa abu bakar langsung kepada nabi dan masuk islam di hadapan nabi sendiri. Denan dakwah secara diam-diam ini, balasan orang telah memeluk agama islam.

Stelah beberapa lama dakwah tersebit di laksanakan seca individual turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka.

Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai menghalangi dakwah rasul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut nabi, semakin keras tantangan dilancarkan kaum quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada 5 faktor yang mendorong orang quraisy menentang seruan islam itu :

(1)   Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terahir ini sangat mereka tidak inginkan.

(2)   Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.

(3)   Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.

(4)   Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa arab.

(5)   Pemahat dan penjual patung memandang islam sebagai penghalang rezeki.

Banyak cara yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad.[6] Pertama-tama mereka mengira bahwa, kekuatan nabi terletak pada perlindungan dan pembelaan Abu Thalib yang amat disegani itu. Karena itu mereka menyusun siasat bagaimana melepaskan hubungan nabi dengan Abu Thalib dan mengancam dengan mengatakan : “Kami minta anda memilih satu diantara dua : memerintahkan Muhammad berhenti dari dakwahnya atau anda menyerahkannya kepada kami. Dengan demikian, anda akan terhindar dari kesulitan yang tidak diinginkan.” Tampaknya Abu Thalib cukup terpengaruh dengan ancaman tersebut, sehingga ia mengharapkan Muhammad menghentikan dakwahnya. Namun, nabi menolak dengan mengatakan : “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara akan mengucilkan saya.” Abu Thalib sangat terharu mendengar jawaban kemenakannya itu, kemudian berkata : “Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu.”

Merasa gagal dengan cara ini, kaum Quraisy kemudian mengutus Walid ibnu Mughirah dengan membawa Umarah ibnu Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan, untuk dipertukarkan dengan nabi Muhammad. Walid bin Mughirah berkata kepada Abu Thalib : “Ambillah dia menjadi anak saudara, tetapi serahkan Muhammad kepada kami untuk kami bunuh.” Usul ini langsung di tolak keras oleh Abu Thalib.

Untuk kali berikutnya, mereka langsung kepada nabi Muhammad. Mereka mengutus Utbah ibn Rabiah, seorang ahli retorika, untuk membujuk nabi. Mereka menawarkan tahta, wanita dan hata asal nabi Muhammad bersedia menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu di tolak nabi Muhammad dengan mengatakan: “Demi Allah, biarpun mereka meletakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini, sehingga agama ini menang atau aku binasa karenanya.

Setelah cara-cara diplomatic dan bujuk rayu yang di lakukan oleh kaum Quraisy gagal, tindakan-tindakan kekerasansecara fisik yang sebelumnya telah dilakukan semakin di tingkatkan.tindakan kekerasan itu semakin lebih intensif ilaksanakan setelah mereka mengetahui bahwa dilingkungan rumah tangga mereka sendiri sudah ada yang masuk islam. Budak-budak yang selama ini mereka anggap sebagai harta, sekarang sudah ada yang masuk islam dan mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan tuan mereka. Budak-budak itu di siksa tuannya dengan sangat kejam. Para pemimpin Quraisy juga mengharuskan setiap keluaga untuk menyiksa anggota keluarganya yang masuk islam sampai ia murtad kembali.

Kekejaman yang dilakukan oleh penduduk Makkah terhadap kaum muslimin itu mendorong nabi Muhammad untuk mengungsikan sahabat-sahabatnya keluar Makkah. Pada tahun ke-5 kerasulannya, nabi menetapkan Habsyah (Ethiopia) sebagai negeri tempat pengungsian, karena Negus (Raja) negeri itu adalah seorang yang adil. Rombongan pertama sejumlah 10 orang pria dan 4 orang wanita diantaranya Utsman bin Affan beserta istrinya Ruqayah puteri Rasulullah, Jubair ibnu Awwam dan Abdurrahman ibnu ‘Auff. Kemudian, menyusul rombongan ke-2 sejumlah hamper 100 orang dipimpin oleh Ja’far ibnu Abu Thalib. Usaha orang-orang Quraisy untuk menghalangi hijrah ke Habsyah ini, termasuk membujuk Negus agar menolak kehadiran umat islam disana, gagal. Disamping itu, semakin kejam mereka memperlakukan umat islam semakin banyak orang yang masuk agama ini. Bahkan, ditengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat Quraisy masuk islam, Hamzah dan Umar ibnu Khaththab. Dengan masuk islamnya dua tokoh besar ini posisi umat islam semakin kuat.

Menguatnya posisi umat islam memper keras reaksi kaum musyrik Quraisy. Mereka menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan Muhammad yang bersandar pada perlindungan Bani Hasyim. Dengan demikian, untuk melumpuhkan kaum muslimin yang dipimpin oleh Muhammad mereka harus melumpuhkan bani Hasyim terlebih dahulu secara keseluruhan. Cara yang ditempuh adalah pemboikotan. Mereka memutuskan segala bentuk hubungan dengan suku ini. Tidak seorang penduduk Makkah pun diperkenankan melakukan hubungan jual beli dengan Bani Hasyim. Persetujuan dibuat dalam piagam dan ditanda tangani bersama dan disimpan di dalam ka’bah. Akibat boikot tersebut, Bani Hasyim kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang tak ada bandingannya.

Untuk meringankan penderitaan itu Bani Hasyim akhirnya pindah ke suatu lembah di luar kota Makkah. Tindakan pemboikotan yang di mulai pada tahun ke-7 kenabian ini berlangsung selama 3 tahun. Ini merupakan tindakan paling menyiksa dan melemahkan umat islam. Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu tindakan yang keterlaluan. Setelah boikot dihentikan, Bani Hasyim seakan dapat bernafas kembali dan pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak lama kemudian Abu Thalib meninggal dunia pada usia 87 tahun. 3 hari setelah itu Khadijah istri nabi meninggal dunia pula. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian. Tahun ini meerupakan tahun kesedihan bagi Nabi Muhammad saw. sepeninggal dua pendukung itu kafir Quraisy tidak segan-segan lagi melampiaskan nafsu amarahnya terhadap nabi. Melihat reaksi penduduk Makkah demikian rupa nabi kemudian berusaha menyebarkan islam ke luar kota. Namun di Tha’if ia diejek, disoraki dan dilempari batu bahkan sampai terluka dibagian badan dan kepalanya.

Untuk menghibur nabi yang sedang ditimpa duka, Allah mengisra dan memikrajkan beliau pada tahun ke-10 kenabian itu. Berita tentang isra mikraj ini di gemparkan masyarakat Makkah. Bagi orang kafir, ia dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan nabi. Sedangkan bagi orang yang beriman ia merupakan ujian keimanan.

Setelah peristiwa isra dan mikraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka yang terdiri dari suku Aus dan Khajraj, masuk islam dalam 3 gelombang:

  1. Pada tahun ke-10 kenabian beberapa orang Khajraj berkata kepada nabi : “Bangsa kami telah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku khajraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan kedamaian. Kiranya tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh karena itu kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yanag kami terima dari engkau ini.” Mereka giat mendakwahkan islam di Yatsrib.
  2. Pada tahun ke-12 kenebian dilegasi Yatsrib terdiri dari 10 orang suku Khajraj dan 2 orang suku Aus serta seorang wanita menemui nabi di suatu tempat bernama aqabah. Dihadapan nabi mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Mus’ab bin Umair yang sengaja diutus nabi atas permintaan mereka. Ikrar ini disebut dengan perjanjian aqabah pertama. Pada musim haji berikutnya jama’ah haji yang dating dari Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib mereka meminta pada nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela nabi dari segala ancaman. Nabi pun menyetujui usul yang mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjian aqabah ke-2.
  3. Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara nabi dan orang-orang Yatsrib itu, mereka kiat gila melancarkan intimidasi terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu 2 bulan hampir semua kaum muslimin kurang lebih 150 orang telah meninggalkan kota Makkah. Hanya Ali dan Abu bakar yang tetap tinggal di Makkah bersama nabi. Keduanya membela dan menemani nabi sampai ia pun berhijrah ke Yatsrib karena kafir Quraisy sudah merencanakan akan membunuhnya.

Dalam perjalanan ke Yatsrib nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba sebuah desa yang jaraknya sekitar 5 Km dari Yatsrib, nabi istirahat beberapa hari lamanya ia menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Dihalaman rumah ini nabi membangun sebuah masjid. Inilah masjid pertama yang di bangun nabi sebagai pusat peribadatan tak lama kemudian Ali menggabungkan diri dengan nabi setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah. Sementara itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap nabi, nama kota yatsrib di ubah menjadi Madinatun Nabi (kota nabi) atau sering pula disebut Madinatul Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar islam memancar keseluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari kota ini cukup disebut madinah saja.

  1. 3. PEMBENTUKAN NEGARA MADINAH

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya: “Meninggalkan suatu perbuatan atau menjauhkan diri dari pergaulan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain.” Adapun hijrah menurut syariat Islam itu ada tiga macam:

Pertama, Hijrah dari (meninggalkan) semua perbuatan yang terlarang oleh Allah swt, ini wajib hukumnya. Nabi saw bersabda:

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه. (رواه البخارى)

Artinya: Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang Allah telah melarang dari padanya. (HR. Bukhori)

Kedua, hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir yang memfitnahkan orang-orang yang kelak memeluk Islam.

Ketiga, Hijrah (berpindah) dari Negeri atau daerah orang kafir atau musyrik ke negeri atau daerah orang muslim. Seperti Rosulullah saw bersabda:

الذين ءامنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله وأولئك هم الفائزون (20) يبشرهم ربهم برحمة منه ورضوان وجنات لهم فيها نعيم مقيم

(21) خالدين فيها أبدا إن الله عنده أجر عظيم (22)

Artinya: Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, lebih besar derajatnya disisi Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan rahmat dan keridhaan-Nya dan surga-surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang abadi, mereka kekal didalamnya. Sesungguhnya Allah pada sisi-Nya pahala yang besar. (At-Taubah:20-22)

  1. a. Pembentukan Negara Madinah

Nabi Muhammad Saw. Yang membawa ajaran tauhid di anggap telah merusak keyakinan masyarakat Arab pada umumnya yang menyembah berhala dengan menjadikan Ka’bah sebagai pusat peribadatan. Dakwah yang dilakukan oleh Muhammad Saw. Dilakukan dengan dua cara: sembunyi-sembunyi yang terbatas hanya kepada keluarga dan kerabat dekat; dan dengan cara terbuka atau terang-terangan. Setelah dakwah dilakukan secara terbuka, baik kepada penduduk lain yang dating ke Mekah untuk melaukan ibadah haji. Dakwah ini akhirnya mendapatkan tanggapan dari masyarakat Quraisy. Menurut A.Syalabi, terdapat lima factor yang menyebabkan masyarakat Quraissy menolak dakwah Nabi Muhammad Saw:

  1. Masyarakat Quraisy tidak bisa membedakan antara kenabian dan kesultanan; mereka mengira tundik kepada seruan uhammad Saw berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani ‘Abd al-Muthalib;
  2. Nabi Muhammad Saw menyerukan persamaan ha kantar bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini yang tidak di setujui oleh bangsa Quraisy
  3. Para pemimpin Quraisy menolak ajaran tentang kebangkitan dan pembalasan di akhirat;
  4. Taqlid pada ajaran nenek moyang mereka yang di tentang oleh Islam sudah berurat berakar pada bangsa arab; dan
  5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rizki.

Karena reaksi keras kaum Quraisy, Nabi Muhammad Saw akhirnya mengungsikan sebagian sahabatnya keluar Makah. Nabi Muhammad Saw menetapkan Habbasyah (Ethiopia) sebagai tempat pengungsian karena raja negri itu adalah seorang yang adil (tahun kelima setelah kerasulan). Akan tetapi, penghadangan orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad Saw semakin menjadi-jadi dengan melakukan boikot kegiatan ekononi Kaum Hasyim.

Setelah Isra Mi’raj, sejumlah penduduk yatsrib yang melakukan ibadah haji ke Mekah masuk Islam. Pada tahun ke-10 kenabian, penduduk Yastrib yang terdiri atas Aus dan Khazraj minta dipersatukan oleh Nabi Saw. Karena mereka sebelumnya mereka telah lama terlibat dalam permusuhan. Kemudian kelompok Aus dan Khazraj menyerukan Islam kepada penduduk Yastrib. Oleh karena itu, dua tahun kemudian (tahun ke-12 kenabian) dating lagi penduduk Yastrib yang berasal dari Aus dan Khazraj kepada Nabi Saw untuk menyatakan kesetiaan. Ikrar itu dinyatakan di Aqabah. Oleh karenanya, ikrar tersebut dinamakan perjanjian aqabah pertama. Pada musim haji berikutnya, dating lagi sebanyak 73 orang penduduk yastrib. Mereka meminta Nabi Saw agar berkenan pindah ke Yastrib dan mereka berjanji akan membela Nabi Saw dari segala ancaman. Nabi Saw menyetujui usulan tersebut. Perjanjian ini disebut perjanjian aqabah kedua.

1)   Strategi Hijarah Nabi Muhammad Saw

Perjanjian aqabah menjadi dasar hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. Mendengar rencana hijrah tersebut, kaum Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad Saw. Mendengar rencana tersebut, Nabi Saw memerintahkan umat Islam hijrah ke Yastrib terlebih dahulu dan sebagian sahabat beserta Nabi Muhammad Saw melancarkan sebuah strategi yang melibatkan banyak pihak agar hijrah yang dilakukannya berhasil dan dapat menggagalkan rencana pembunuhan yang dilakukan elit Quraisy.

Strategi tersebut disusun sebagai berikut:

  1. Sebelum hijrah, Nabi Muhammad Saw meminta bantuan Abu Bakar agar menyertainya dan menyiapkan dua ekor unta untuk dijadikan kendaraan. Abu Bakar menyiapkan dua ekor unta yang diserahkan kepada pemeliharanya, Abdullah Ibn Uraiqiz sampai tiba waktunya.
  2. Karena yakin orang Quraisy akan membuntuti mereka, Nabi Muhammad Saw memutusskan untuk menempuhjalan lain ( bukan jalan biasa yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya), juga berangkat bukan pada waktu biasa ( siang hari), tetapi dilakukan pada malam hari.
  3. Pemuda-pemuda yang disiapkan Quraisy sudah mengintai rumah Nai Muhammad Saw. Beliau meminta Ali Ibn Abi Thalib agar memakai mantelnya yang hijau dan berbaring di tempat tidurnya. Selain itu, Ali Ibn abi Thalib juga mengurus barang-barang titipan umat Islam yang sudah lebih awal melakukan hijrah sepeninggalnya nanti.
  4. Di tengah kegelapan malam, Nabi Muhammad Saw keluar dari rumahnya menuju rumah abu Bakar. Dua orang ini kemudian keluar menuju jendela belakan dan berangkat menuju gua Tsur dan bersembunyi di dalamnya.
  5. Orang-orang yang mengetahui tempat persembunyian Nabi Muhammad Saw dan abu Bakar hanyalah Abdullah Ibn Abu Bakar, dua puteri Abu Bakar, aisyah, dan asthama, serta pembantunya, yaitu ‘Amir Ibn Fuhaira.
  6. Abdullah Ibn Abu Bakar bertugas membaurkan diri dengan masyarakat Quraisy untuk menyerap berita mangenai sejumlah rencana orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad Saw dan menyampaikannya kepada Nabi Muhammad Saw.
  7. Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar tinggal di gua Tsur selama tiga hari. Orang-orang Quraisy mengejatnya; dan Nabi Muhammad Saw senantiasa berdoa kepada Allah selama dalam gua, sehingga ketika para pemuda yang mengejarnya sudah sampai di sekitar gua Tsur, mereka mendapatkan ketidakadaan orang di dalamnya. Tanda-tanda itu adalah:

a)      Di mulut gua terdapat sarang laba-laba yang masih utuh; mesti sarang laba-laba rusak apabila ada orang yang masuk ke mulut gua tersebut;

b)      Ada dua ekor burung dara-hutan di mulut gua; burung itu akan terbang apabila didalam gua ada orang karena ketakutan,

c)      Ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua; tidak ada jalan bagi orang untuk masuk kedalam gua kecuali telah menghalau dahan-dahan itu. Karena melihat tanda-tanda itu, mereka tidak masuk ke dalam gua Tsur.

  1. Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar setelah melihat ancaman dari kaum Quraisy begitu gigih kemudian mereka pun meminta Abdullah Ibn “uraiqit sebagai petunjuk jalan. Atas bantuan Abdullah Ibn ‘Uraiqit, Nabi Muhammad Saw berhasil melakukan perjalanan ke Yastrib dengan menggunakan jalan yang tidak biasa ditempuh oleh masyarakat umum, yaitu dari gua tsur menuju selatan mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai laut meerah. Setelah berhasil mengatasi kejaran Quraisy terutama Suraqaah Ibn Ja’syum, akhirnya Nabi Muhammad Saw dan abu bakar tiba di Yastrib.

2)   Pembentukan Negara Madinah[7]

Sesampainya di Yastrib, Nabi Muhammad Saw mendapat sambutan dari masyarakat Yastrib dan umat Islam sudah melakukan hijrah terlebih dahulu. Langkah-langkah yang ddilakukan oleh nabi Muhammad Saw dalam membangun masyarakat Islam di Yastrib adalah:

Pertama, Nabi saw mengubah nama Yastrib menjadi Madinah. Perubahan nama yang bukan terjadi secara kebetulan, tetapi perubahan nama yang menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad Saw yaitu membentuk sebuah masyarakat yang tertib dan maju dan berperadaban.

Kedua, menbangun mesjid. Mesjid bukan hanya dijadikan pusat kegiatan ritual-shalat, juga menjadi sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dengan musyawarah dalam merundingkan masalah-masalah yang dihadapai. Disamping itu, mesjid juga menjadi pusat kegiatan pemerintahan,

Ketiga, Nabi Muhammad Saw membentuk kegiatan mu’akhat (persaudaraan), yaitu mempersaudarakan kaum muhajirin dengan anshar. Persaudaraan diharapkan dapat mengikat kaum muslimin dalam satu persaudaraan dan kekeeluargaan. Nabi saw membentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan se agama disamping untuk persaudaraan yang aru, yaitu persaudaraan yang sudah ada sebelumnya, yaitu bentuk persaudaraan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam; dan

Keempat, membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam.

Kelima, Nabi Muhammad Saw membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan-gangguan yang di lakukan oleh musuh.

3)   Konstitusi (piagam) Madinah

Menurut sebagian ahli sejarah, piagam Madinah adalah konstitusi pertama di dunia. Sedangkan Yusuf al Ish berpendapat bahwa Piagam Madinah adalah dokumen sejarah yang pabrikasi (yang di buat-buat). Alasannya adalah dokumen penting ini tidak di muat dalam kitab-kitab hadist. Meskipun dokumen itu tidak di muat dalam kitab-kitab hadist, Akram Dhiyauddin Umari menganggap terlalu gegabah untuk menilai dokumen Piagam Madinah sebagai sesuatu yang di buat-buat.

Menurut Syadzali (mantan mentri agama RI) menyebutkan bahwa dasar-dasar kenegaraan yang terdapat dalam piagam Madinah adalah:

Pertama, umat Islam merupakan satu komunitas (ummat) meskipun berasal dari suku yang beragam,

Kedua, hubungan antara sesama anggota komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip:

a)      Bertetangga baik,

b)      Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama,

c)      Membela mereka yang dianiaya,

d)     Saling menasehati, dan

e)      Menghormati kebebasan beragama.

Menurut Akram Dhiyauddin Umari, isi Piagam Madinah secara umum dapat di bedakan menjadi dua: Pertama, perjanjian Nabi Muhammad Saw dengan yahudi, Kedua, perjanjian Nabi Muhammad dengan kaum Muhajirin dan Anshar.

4)   Perang dan Damai

Setelah menbangun masyarakat Madinah, Nabi Muhammad Saw mengadakan hubungan dengan dunia atau kekuasaan lain. Hubungan dalam bentuk perang terjadi antara umat Islam Madinah dengan Musyrikin Quraisy pada tahun ke-2 setelah hijrah. Perang pertama disebut perang badar. Dalam perang ini umat islam memperoleh kemenangan. se

Dangkan internal persatuan Yatsrib sendiri terganggu oleh suku Yahudi Madinah, Qunaiqa yang berkomplot dengan orang-orang Makkah yang akhirnya diserang oleh nabi saw.  Yahudi Qainuqa meninggalkan Madinah dan pindah ke perbatasan Syiria.

Disamping melakukan sejumlah perang, umat Islam Madinah juga mengadakan perjanjian dengan kekuatan lain. Diantara perjanjian tersebut adalah perjanjian Hudaibiyah (tahun ke-6 setelah hijrah). Isi perjanjian tersebut adalah:

a)         Umat Islam belum boleh mengunjungi ka’bah itu dan kebolehan itu ditangguhkan sampai tahun depan.

b)         Lama kunjungan dibatasi hanya tiga hari.

c)         Kaum muslim wajib mengembalikan orang-orang Mekah yang lari ke Madinah dan orang-orang Quraisy tidak boleh menolak orang-orang Madinah yang hendak kembali ke Mekah.

d)        Diadakan gencatan senjata selama sepuluh tahun.

e)         Setiap Qabilah bebas bersekutu: apakah akan bersekutu dengan Quraisy atau akan bersekutu dengan umat Islam.

.

Di Madinah Nabi Muhammad saw. telah memberlakukan hokum atau aturan-aturan kemasyarakatan yang ditegakkan (dipaksakan) kepada para pelanggar aturan-aturan tersebut. Di Madinah telah ditegakkan kewajiban zakat, puasa, hudud, dan penentuan halal-haram. Oleh karena itu, ada hubungan yang mengikat secara hokum antara rakyat yang dipimpin dengan pemimpin yang disebut Piagam Madinah. Oleh karena Madinah layak disebut Negara, maka sangat relevan apabila dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah kepala Negara Madinah dan juga kepala pemerintahan, karena telah mengutus beberapa orang yang dapat dipercaya, seperti mengutus Mu’adz Ibn Jabal ke Yaman.

Dilihat dari aspek pendirian Negara Madinah, Nabi Muhammad saw. merupakan peletak dasar-dasar atau fondasi-fondasi kenegaraan Madinah yang pertama. Oleh karena itu, dari segi pendirian Madinah sebagai Negara, Nabi Muhammad saw. bukan hanya berperan sebagai kepala Negara, tetapi lebih dari itu, beliau sebagai pendiri Negara (founding father) Madinah. Hanya saja memang tidak ada institusi formal yang mengangkat Nabi Muhammad saw. sebagai kepala Negara.

  1. C. SIMPULAN
  • Situasi Arab pra Islam di tinjau dari macam-macam keadaan sangat beragam , salah satu diantaranya yaitu, keadaan moral bangsa Arab sebelum Islam yaitu:
  1. Meminum Arak
  2. Perjudian
  3. Pelacuran
  4. Pencurian dan Perampokan
  5. Kekejaman
  6. Kekotoran dalam urusan makan dan minum
  7. Tidak mempunyai kesopanan
  8. Pertengkaran dan Perkelahian.
  • Sebelum kerasulan Nabi Muhammad Saw. Adalah anggota bani hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku quraisy. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relative miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak abdul muthalib, seorang kepala suku quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah aminah binti wahab dari bani zuhrah. Tahun kelahiran nabi dikenal dengan nama tahun gajah (570 M). dinamakan demikian, karena pada tahun itu pasukan abrahah, gubernur kerajaan habsyi (Ethiopia), dengan menunggang gajah menerbu makkah untuk menghancurkan ka`bah.
  • Masa kerasulan Menjelang usianya yang ke 40, dia sudah terlalu bisa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, bekontemplasi ke gua hira, beberapa kilometer di utara makkah. Disana muhamad mula-mula berjam-jam kemudian berhar-hari bertafakr. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 M, malaikat jibri muncul di hadapannya, menyamaikan wahyu allah yang pertama :
  • Sesampainya di Yastrib, Nabi Muhammad Saw mendapat sambutan dari masyarakat Yastrib dan umat Islam sudah melakukan hijrah terlebih dahulu. Langkah-langkah yang dilakukan oleh nabi Muhammad Saw dalam membangun masyarakat Islam di Yastrib adalah:

Pertama, Nabi saw mengubah nama yastrib menjadi Madinah. Perubahan nama yang bukan terjadi secara kebetulan, tetapi perubahan nama yang menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad Saw yaitu membentuk sebuah masyarakat yang tertib dan maju dan berperadaban.

Kedua, menbangun mesjid. Mesjid bukan hanya dijadikan pusat kegiatan ritual-shalat, juga menjadi sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dengan musyawarah dalam merundingkan masalah-masalah yang dihadapai. Disamping itu, mesjid juga menjadi pusat kegiatan pemerintahan,

Ketiga, Nabi Muhammad Saw membentuk kegiatan mu’akhat (persaudaraan), yaitu mempersaudarakan kaum muhajirin dengan anshar. Persaudaraan diharapkan dapat mengikat kaum muslimin dalam satu persaudaraan dan kekeeluargaan. Nabi saw membentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan se agama disamping untuk persaudaraan yang aru, yaitu persaudaraan yang sudah ada sebelumnya, yaitu bentuk persaudaraan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam; dan

Keempat, membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama islam.

Kelima, Nabi Muhammad Saw membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan-gangguan yang di lakukan oleh musuh.


[1] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2004) Hal. 13

[2] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2004) Hal.15

[3] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2004) Hal.17

[4] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2004) Hal.27

[5] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008). Hal. 16

[6] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008). Hal. 21

[7] Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005). Hal. 47