Gugatan terhadap hadist Rasulullah SAW

  1. Ignaz Goldziher

Menurut Azami sarjana Barat yang pertama kali melakukan kajian tentang hadis adalah ignaz goldziher dalam bukunya : Muhammadanische Studien sebagaiman yang dikutip oleh Dr. Ali Hassan Abdul Qadir (1965 : 127) dia mengatakan:”bagian terbesar dari hadis tak lain adalah hasil perkembnaan islam pada abad pertama dan kedua baik dalam bidang keagamaan, politik maupun sosial. Tidaklah benar pendapat yang menyatakan bahwa hadis merupakan dokumen islam yang sudah ada sejak masa dini (masa pertumbuhan) melainkan ia adalah pengaruh perkembnagan islam pada masa kematangan” Nampak dari ungkapan Ignaz ini adanya keraguan untuk meyakini otentisitas hadis sudah ada pada masa Nabi, Shahabat ataupun masa tabi’in. Hadis tidak lain adalah karya-karya ulama masa sesudah wafat nabi yang didasarkan pada fenomena-fenomena sosial dan kasus-kasus aktual yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Adapun argumentasi yang digunakan Goldziher untuk membuktikan keaslian hadis nabi adalah berdasarkan pada sebuah riwayat yang berkenaan dengan kasus penulisan hadis yang dilakukan oleh Ibn Syihab azZuhri. Menurut Goldziher , al Zuhri mengatakan :
ان هؤلاء الأمرا اكرهنا على كتابة احاديس

(Sesungguhnya para pejabat itu (Umar bin Abdul Aziz/Hisyam bin Abdul Malik) telah “memaksa” kami untuk menulis beberapa “hadis” )

Kata-kata “ahadis” dalam kutipan Goldziher tanpa memakai “al” yang dalam bahasa arab menunjukkan sesuatu yang sudah definitif (ma’rifah) sementara dalam teks yang asli seperti terdapat pada kitab Ibn Sa’ad dan Ibn Asyakir adalah “al Ahadis” yang berarti hadis-hadis yang sudah dimaklumi secara definitif yakni hadis-hadis yang berasal dari Nabi SAW.( as Sibai’I, 1978:12) Jadi pengertian ucapan al Zuhri yang asli adalah para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan hadis-hadis Nabi yang pada saat itu suda ada , akan tetapi belum terhimpun dalam satu buku . semnetara pengertian ucapannya dalam kutipan Goldziher adalah para pejabat itu telah memaksanya untuk menulis hadis yang belum pernah ada pada saat itu.
Ignaz Goldziher juga menuduh bahwa penelitian hadis yang dilakukan oleh ulama klasik tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal ini karena para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad dan kurang menggunakan metode kritik matan, karenanya Goldziher kemudian ,menawarkan metode kritik baru yaitu kritik pada matan ( Azhami, 1982:127). Menurutnya kritik matan hadis itu mencakup berbagai aspek seperti politik, sains, sosial kultural dll. Mengingat bahwa beberapa pepatah hukum yang berasal dari adat kebiasaan Yahudi dan Nasrani bahkan juga pemikiran filsafat Yunani diriwayatkan telah disabdakan oleh Nabi SAW (Gibb, 1983:56-57). Contoh kasus dapat ditemukan pada sebuah hadis yang artinya berbunyi : “Tidak diperintahkan pergi kecuali menuju tiga masjid, Masjid al Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al Aqsha” Menurut Goldziher Abdul Malik Ibn Marwan (Khalifah Dinasti Ummayah di Damaskus) merasa khawatir apabila Abdullah bin Zubair (opposannya di Makkah) mengambil kesempatan dengan menyuruh orang-orang Syam (syria dan sekitarnya) yang sedang melakukan ibadah haji di Makkah untuk berbaiat kepadanya. Karenanya, Abdul Malik bin Marwan berusaha agar orang-orang Syam tidak lagi pergi ke Makkah, akan tetapi cukup hanya pergi ke Qubbah Sakhra di al Quds (Palestina) yang pada saat itu masuk dalam kekuasaan wilayah Syam.

Dalam rangka mewujudkan usaha yang bersifat politis ini, Abdul Malik bin Marwan menugaskan al Zuhri agar membuat hadis dengan sanad yang bersambung ke Nabi SAW dimana isinya umat islam tidak diperintahkan pegi kecuali menuju tiga masjid, Masjid al Haram, Masjid Nabawu dan Masjid al Aqsha. Jadi kesimpulannya hadis tersebut tidak shahih karena ia merupakan bikinan ibn Shihab al Zuhri dan bukan sabda Nabi SAW, meskipun hadis tersebut tercantum dalam kitabshahih al Bukhari yang diakui otentisitasnya oleh ummat islam, bahkan diakui sebagai kitab yang paling otentik sesudah al qur’an. Dari sini rasanya tidak terlalu sulit untuk menetapkan bahwa tujuan Ignaz Goldziher adalah untuk meruntuhkan kepercayaan umat islam terhadap kredibilitas Imam Bukhari yang selam ini telah terbina kokoh sejak abad ketiga hijriah sampai sekarang.

Pemikiran Barat yang “ilmiah” ini ternyata berdampak sangat luas terhadap seluruh kajian-kajian tentang islam. Pengaruhnya bukan saja di kalangan orientalis saja melainkan juga di kalanagan pemikir muslim, misalnya Ahmad Amin, dalam bukunya “Fajrul Ilsam” juga terkecoh dengan meragukan beberapa hadis akibat teorinya Ignaz tersebut. Begitu pula dengan Mahmud Abu Rayyah dalam bukunya “Adhwa ‘Ala as Sunnah al Muhammadiyah” ia juga banyak mengikuti metode-metode kritik hadis versi goldziher. Demikian juga Dr. Thoha Husein, Syaikh Muhammad al Ghazaliy, Fazlurrahman dan lain-lain meski dalam batas dan kualitas yang berbeda-beda.

  1. Josepht Schahct

Orientalis berikutnya yang meragukan otentisitas hadis adalah Josepht Schahct, secara umum dapat disimpulkan bahwa pemikiran Josepht Schahct atas hadis banyak bertumpu pada teori-teori yang digagas oleh pendahulunya yakni Goldziher. Hanya saja perbedaannya adalah jika Goldziher meragukan otentisitas hadis, Josepht Schahct sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar adalah palsu. Dalam rangka membuktikan dasar-dasar pemikirannya tentang kepalsuan hadis Nabi SAW, Josepht Schahct menyusun beberapa teori berikut ini :
Pertama, Teori Projecting Back, maksudnya adalah untuk melihat keaslian hadis bisa direkonstruksikan lewat penelusuran sejarah hubungan antara hukum islam dengan apa yang disebut hadis Nabi. Menurutnya hukum islam belum eksis pada masa al Sya’bi (110 H) Oleh karena itu jika ada hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum islam, maka itu adalah bikinan orang-orang sesudah al Sya’bi. Hukum islam baru eksis ketika ada kebijakan khalifah Ummayah mengangkat para hakim. Para Qadli ini pada akhirnya menjadi kelompok aliran fiqh klasik. Keputusan-keputusan hukum yang dibuat oleh mereka tentunya memerlukan legitimasi dari “orang-orang yang memiliki otoritas” lebih tinggi. Karena itu keputusan itu mereka nisbahkan kepada tokoh-tokoh sebelumnya, yang otoritatif dan kharismatik, tidak saja pada ulama yang jarak wafatnya dengan mereka dekat, melainkan juga dinisbahkan kepada tokoh yang jauh di belakangnya. Langkah selanjutnya untuk memperoleh legitimasi yang lebih kuat pendapat /keputusan hukum itu dinisbahkan kepada kepada tokoh yang lebih tinggi misalnya abdullah bin Mas’ud dll. Dan pada akhirnya keputusan itu dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW . Inilah rekonstruksi terbentuknya sanad hadis menurut prof. Josepht Schahct yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat itu kepada tokoh-tokoh sejarah masa lalu .

Gerakan penisbahan hadis yang dilakukan oleh aliran fiqh klasik ini diimbangi oleh gerakan oposisi dari kalangan ahli hadis (madrasah hadis) Merka mulai enafsirkan hadis-hadis nabi untuk mengiumbnagi dan memngalahkan aturan-aturan yang dibuat oleh kelompok aliran fiqh klasik. Caranya dengan membuat sanad yang diakui kevalidannya bersambung dari seorang perawi samapi kepada Nabii SAW (Ya’qub,1995:22). Kesimpulan dari teori Josepht Schahct ini adalah baik kelompok ahli fiqh maupun kelompok madraah hadis, keduanya sama-sama memalsu hadis! Karena itu Josepht Schahct mengatakan : We shall not meet any legal tradition from the prophet which can be considered authentic (Schacht, 1975:149) (kita tidak akan dapat menemukan satupun hadis nabi yang berkaitan dengan hukum yang dapat dipertimbangkan sebagai hadis shahih)

Kedua, Teori E Silentio, sebuah teori yang disusun berdasarkan asumsi bahwa bila seseroang sarjana (ulama/perawi) pada waktu tertentu tidak cermat terhadap adanya sebuah hadis dan gagal menyebutkannya/ jika satu hadis oleh sarjana (ulama/perawi) yang datang kemudian yang mana para sarjana sebelumnya menggunakan hadis tersebut, maka berarti hadis tersebut tidak pernah ada. Jika satu hadis ditemukan pertam kali tanpa sanad yang komplit dan kemudian ditulis dengan isnad yang komplit, maka isnad itu juga dipalsukan. Dengan kata lain untuk membuktikan hadis itu eksis/ tidak cukup dengan menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak pernah dipergunakan sebagai dalil dalam diskusi para fuqaha. Sebab seandainya hadis itu pernah ada pasti hal itu akan dijadikan sebagai refrensi (Schacht,1975:40)

Inilah dasar-daar pemikiran yang disusun Josepht Schahct untuk membuktikan bahwa kebanyakan hadis nabi adalah hasil rekayasa para ulama abad 2 hijriya.
Adapaun pemikiran orientalis yang ketiga adalah G.H. A. Jyunboll, dalam bebrpa karyanya seperti Muslim Tradition : Studies in Cronology Provenance and Authorship of Early Hadith dan The Date of The Great Fitna, Jyunboll melakukan kritik hadsi yang sejatinya kritik-kritiknya itu tidak lebih dari mengulang-ulang atau mendukung gagasan schacht dalam bukunya the Origin of Muhammadans Yurisprudence. Menurut muhadisin, isnad baru dipergunakan secra cermat setelah terjadiny a”fitnah” tragedi pembunuhan khalifah ustman (656 M) Jyunbolll menolak anggapan ini dnegan bersandarkan pada karya ibn Sirin, bahwa penggunaan isnad baru dimulai ketika “fitnah” tragedi peperngan antara abdullah bin Zubair dengan dinasti Ummayah yang pada akhirnya berdampak pada banyaknya hadis-hdis palsu. Seperti hadis “man Kazaba…” Jyunboll menemukan sekurang-kurangnya 5 jalur sanad yang disandarkan pada abu hanifah. Dia beranggapan hadis itu disusun pada saat-saat tertentu setelah abu hanifah wafat. Hal ini sangat rasional mengingat abu hanifah adalah merupakan tokoh yang serig mengenyampingkan hadis (Jyunboll, 1960:121). Oleh karena itu jika ada koleksi hadis yang menggunakn namanya, maka hal tersebut harus dipandang sebagai ahsil dari suatu usaha dari par pendukung mazhab hanafi untuk mengkompromikan perbedaan antara madrasah ahl al ra’y dengan madrasah ahl al hadis (Jyunboll, 1960:123).

Jyunboll mendukung teori e silentionya schacht sembari menambahkan bahwa kolektor hadis (mukharrij) yang koleksi hadisnya berbeda atau tidak menemukan hadis yang dikoleksi oleh kolektor sebelumnya atau sesudahnya padahal hadis itu terkenal, dapat dijadikan alasan untuk meniadakan kebenaran hadis itu (Jyunboll, 1960:98). Demikian juga dengan teori Common Linknya schacht dia menyebutnya sebagai teori yang brilliant (Jyunboll, 1960:207) sekaligus mendukungnya dengan menyimpulkan bahwa pertama, fenomena (tokoh penghubung) merupakan gambaran riel bagi ahl al hadis abad pertengahan, kedua, ulama muhadisin tidak pernah menjadikan fenomena (tokoh penghubung) itu sebagai alat untuk menyelidiki kepalsuan suatu hadis (Jyunboll, 1960:205).

  1. Golongan Inkar As Sunnah

kelompok ini menolak hadits-hadits Rasulullah sebagai hujjah secara keseluruhan. Argumentasi kelompok ini dalam menolak hadits sebagai sumber kedua ajaran islam, adalah

  1. Al-Qur’an diturunkan Allah SWT dalam bahasa arab. dengan penguasaan bahasa arab yang baik, tanpa memerlukan bantuan penjelasan dari hadits-hadits Rasulullah SAW.
  2. Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan Allah SWT adalah penjelas segala sesuatu yang tersirat dalam Q.S An-Nahl ayat 89:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Artinya : ……. Dan kami turunkan kepadamu al kitab (al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Hal ini berarti penjelasan al qur’an telah mencakup segala sesuatu yang diperlukan oleh ummat manusia. maka dengan demikian tidak perlu lagi penjelasan dari hadits-hadits rasulullah SAW

  1. Hadits-hadits Rasulllah SAW sampai kepada kita melalui proses periwayatan yang yang tidak dijamin bersih dari kekeliruan, kesalahan dan bahkan kedustaan terhadap Rasulullah SAW. Oleh karna itu nilai kebenarannya tidak menyakinkan( zanni ). karena status ke zanni an ini, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai penjelas (mubayyin) bagi Al Qur’an yang diyakini kebenarannya (qat’i).

Dari ketiga Argumentasi ini mereka menolak otoritas hadits-hadits Rasulullah SAW sebagai hujjah dan sumber kedua ajaran agama islam. dengan demikian,dalam prinsip mereka sunnah tidak perlu di taati dan diamalkan. sumber satu-satunya ajaran agama islam bagi mereka adalah Al Qur’an.

Bantahan-bantahan paraulama

  1. a. Bantahan Para Ulama terhadap Kritik Orientalis

Pendapat Goldziher bahwa hadis belum merupakan dokumen sejarah yang muncul pada masa-masa awal peertumbuhan islam disanggah oleh bebrapa pakar hadis. Mereka itu di antaranya : Prof. Dr. Musthofa as Siba’iy (as Sunnah wa Makanatuha fi at Tasyri’il Islam) Prof. Dr. ‘Ajjaj al Khatib (as Sunnah Qabla Tadwin) dan Prof. Dr. M. Musthofa al Azhami (Studies in Early Hadith Literature). Menurut ketiga ulama ini pendapat Goldziher lemah baik dari sisi metodologisnya maupun kebenaran materi sejarahnya. Karena ketidaktahuan mereka (kekurangpercayaan) pada bukti-bukti sejarah. Orientalis lain yakni Nabia Abbot, justru mengajukan buktii-bukti yang cukup valid tentang keberadaan pencattan hadis pada awal-awal periode islam, dalam bukunya Studies in Arabic Literary Papyri. Abbot menyimpulakn bahwa penulisan hadis bisa direkonstruksikan dalam 4 fase: pertama, masa Nabi hidup, kedua, masa wafat Nabi sampai masa Ummayah, ketiga, pada masa Ummayah dengan titik sentral bahasan pada peran ibn Syihab al Zuhri dan keempat adalah periode kodifikasi hadis kedalam buku-buku fiqh (Abbot, : 289) Sisi metodologi yang dikritik Azhami adalah bahwa kesalahan orientalis yang tidak konsisten dalam mendiskusikakn perkembangan hadis Nabi yang berkaitan dengan hukum, sebab bukunya memfokuskan diri pada masalah hukum, mereka malah memasukkan hadis-hadis ritual. Sebgai contoh dari 47 hadis yang diklaimnya berasal dari Nabi sebagiannya tidak berasal dari Nabi, dan tidak juga berkaitan dengan hukum hanya seperempat yang relevan dengan topik yang didiskusikan (Azhami, :118). Berkenaan dengan pernyataan ibn Syihab az Zuhri , Azhami menyatakan bahwa tiadak ada bukti-bukti historis yang memperkuat teori Goldziher, bahkan justru sebaliknya. Ternyata Goldziher merubah teks yang seharusnya berbunyi al Ahadis, akan tetapi ditulis dengan lafaz ahadis saja. Demikian juga ternyata tuduhan Goldziher bahwa al Zuhri dipaksa khalifah abdul malik bin marwan (yang bermusuhan dengan ibn Zubair) untuk membuat hadis, adalah palsu belaka. Hal ini mengingat al Zuhri semasa hidupnya tidak pernah bertemu dengan abdul malik, kecuali sesudah 7 tahun dari wafatnya ibn Zubair. Pada saat itu umur al Zuhri sekitar 10-18 tahun sehingga tidak rasional pemuda seperti itu memiliki reputasi dan otoritas yang kuat untuk mempengaruhi masyarakat di sekitarnya. Bahkan as Sibai menantang abdul Qadir profesornya untuk membuktikan kebenaran teks al Zuhri . Pada akhirnya terbukti bahwa Abdul Qadir salah dan berpegang pada argumen-argumen yang tidak ilmiah (Jyunboll,1999:51). Argumen lain yang juga dapat meruntuhkan teori Goldziher adalah teks hadis itu sendiri. Sebagaiman atermaktub dalam kitab shahih Bukhari hadis tersebut tidak memberikan isyarat apapun yang bisa menunjukkan bahwa ibadah haji dapat dilakukan di al Quds (Yurussalem) yang ada hanya isyarat pemberian keistimewaan kepada masjid al Aqsha, dan hal ini wjar mengingat masjid itu pernah dijadikan qiblat pertma bagi ummat islam.
Sementara itu tawaran Goldziher agar hadis tidak semata-mata didekati lewat perspektif sanad akan tetapi juga lewat kritik matan, perlu dicermati. Sebenarnya semenjak awal para shahabat dan generasi sesudahnya sudah mempraktekkan metode kritik matan. Penjelasan argumentatif telah disajikan oleh Subkhi as Shalih bahwa ulama dalam mengkaji hadis juga bertumpu pada matan ( Shalih, 1988:284-287). Hanya saja secara teori memnag kurang mendapat porsi publikasi yang berimbang dibanding kritik sanad. Bahkan ternyata tawaran metodologis Goldziher itu dalam praktiknya justru mengundang kelemahan, karena alat analisa yang digunakan adalah bukku-buku sejarah (sirah Nabi) atau kitab-kitab maghazi dan kitab-kitab fiqh yang tidak terjaga ketelitian periwayatan sanadnya (Ismail, 1995:76-82). Berikutnya adalah sanggahan terhadap kritikan Joseph Schahcht sebagaimana yang dia gagas dalam teori Projecting Back-nya. Menurut Azhami kesalahan Schacht adalah bahwa dia keliru ketika menjadikan kitab-kitab sirah Nabi dan kitab-kitab fiqh sebagai dasar postulat /sumsi penyusunan teorinya itu. Kitab Muwattha’ Imam Malik dan al Syaibaniy serta risalahnya Imam as Syafi’I tidak bisa dijadiakan sebagai alat analisis eksistensi atau embrio kelahiran hadis Nabi. Sebab kitab-kitab tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu untuk meneliti hadis Nabi sebaiknya menggunakan dan berpedoman pada kitab-kitab hadis (Azhami, 1978: ) . Azhami dalam rangka meruntuhkan teorinya schacht telah melakukan penelitian terhdap beberapa naskah hadis –dengan sanad abu hurairah, abu shalih, suhail…dst- yang ternyata dari hasil kajiannya sangat mustahil hadis bisa dipalsukan begitu saja (Azhami, :199).

Sementara teori e Silentio-nya schacht dikritk oleh Ja’far Ishaq Anshari salam buku beliau : The Authenticity of Tradition, A Critique of Joseph Schacht‘s Argument e Silention, begitu pula Azhami dalam On Schacht …Keduanya berkesimpulan bahwa schacht melakukan kontradiksi dalam berargumen, sebab dalam bukunya the origin ..schacht mengecualikan teorinya itu terhadap referensi yang berasal dari 2 generasi di belakang syafi’I ( Schacht, :57) , kenyataannya schacht justru menggunakan muwatha’nya Imam Malik dan Syaibaniy sebagai data-datanya- yang itu adalah referensi yang valid menurutnya. Muwatha’ adalah suatu karya yang oleh Ignaz Goldziher dikritik sebagai bukan kitab hadis dengan alasan (1) belum mencakup seluruh hadis yang ada (2) lebih menekankan pada aspek hukum , kurang fokus pada penyelidikan penghimpunann hadis (3) campuran qaul Nabi, Shahabatdan tabi’in (Ismai’,1995:115). Di samping itu Azhami membuktikan bahwa tidak adanya sebuah hadis pada masa kemudian, padahal pada masa-masa awal hadis itu dicatat oleh perawi, disebabkan pengarangnya menghapus/menasakh hadis tersebut. Sehingga ia tidak menulisnya dalam karya-karya terbaru karena tidak mendukung teori hukum yang mereka anut (Azhami, : 119-121). Ketidakkonsistenan schacht terbukti ketika dia mengkritik hadis-hadis hukum adalah palsu, ternyata ia mendasarkan teorinya itu pada hadis-hadis ritual (ibadah) yang jika diteliti lebih dalam lagi ternyata tidak bersambung ke Nabi (Azhami, :118)

Demikian makalah ini disusun kesimpulannya adalah bahwa ketekunan dan minat/gairah intelektual para orientalis untuk mempelajari hadis patut untuk direspon dengan baik. Hanya saja niat dan tujuan mereka yang jahat itulah yang patut diwaspadai . Keseluruhan ulama pendukung hadis, yakin bahwa kajian-kajian islam (terutama al hadis) yang dilakukan oleh orientalis tidak dimaksudkan kecuali dengan tujuan meragukan dan menyanggah kebenaran dasar-dasar syari’at islam.

Oleh karena itu ummat islam dituntut untuk terus mengkaji dan mengembangkan studi yang lebih intensif dan metodologis dalam rangka mempertahankan serangan-serangan dari fihak di luar Islam dan sekaligus mengembangkan pemahamna-pemahaman baru yang bisa lebih diterima oleh pemikiran yang rasional dan bertanggung jawab. Akhir al kalam Wallahu a’lam bi al Shawab.

  1. b. Bantahan para ulama terhadap ingkar sunnah

Imam Syafi’I memberikan jawaban atas argumen-argumen kelompok inkarsunah dengan mengatakan bahwa :

  1. Al Qur’an sendiri dalam banyak ayatnya mengatakan bahwa ummat islam harus menjauhi larangan Allah SWT dan Rasul Nya serta mengikuti segala perintah Allah SWT dan Rasul Nya. Perintah dan larangan Rasulullah ini hanya dapat diketahui setelah ia wafat, melaui hadits-haditsnya. dengan demikian landasan utama bagi otoritas hadits-hadits sebagai hujah dan sumber ajaran islam kedua adalah ayat Al Quran sendiri.
  2. Dengan menguasai bahasa arab, maka orang akan tahu bahwa al qur’an-lah yang memerintahkan mereka untuk mengikuti sunah Rasulullah yang diriwayatkan oleh periwayat-periwayat terpercaya (as shadiqin), hal ini terdapat dalam al qur’an surat Al Jumuah ayat 02

Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Dan Qur’an Surat Al Ahzab ayat 34.

Artinya : Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

  1. Al Qur’an mengandung banyak perintah atau larangan yang sifatnya umum tanpa memberikan bagaimana perincian pelaksanaannya. kalau tidak, maka hamba Allah tidak akan dapat melaksanakan perintah atau menjauhi larangan tersebut sesuai dengan kehendak Allah SWT. di sinilah hadits-hadits Rasulullah SAW berfungsi.